Makalah Pengantar Teknik Industri
PT. Coca-Cola Amatil Indonesia

Oleh:
Apriliyani
Dwi Putri (10070212053)
Teknik
Industri ( A )
A. SEJARAH COCA COLA :
Minuman ringan (Soft Drink) Coca-Cola diciptakan oleh Dr. John S.
Pemberton, seorang ahli farmasi dan ahli minuman dari Atlanta, Georgia, Amerika
Serikat, pada bulan Mei 1886. Ia mencampurkan suatu ramuan khusus dengan gula
murni menjadi sirup yang beraroma segar dan berwarna karamel, kemudian diaduk
bersama air murni. Minuman ini kemudian dikenal dengan nama Coca-Cola. Pada
awalnya penjualan minuman ini dilakukan dengan menempatkan minuman ringan (Soft
Drink) tersebut di dalam guci besar yang diletakkan ditempat-tempat
strategis.Namun adanya peningkatan jumlah pembelian menyebabkan penggunaan guci
tersebut digantikan dengan kemasan botol yang lebih praktis.
The Coca-Cola Company didirikan tahun 1892 oleh Asa G. Chandler di Atlanta,
yang juga mempatenkan merek dagang Coca-Cola. Perusahaan ini merupakan induk
dari semua perusahaan pembotolan yang memiliki merek dagang Coca-Cola diseluruh
Negara didunia dengan menyediakan bahan baku konsentratnya. Mulai tahun 1893,
The Coca-Cola Company membangun pabrik sirupnya diluar Atlanta.
Presiden The Coca-Cola Company (1919-1955), Robert W. Woudruff, merupakan orang
yang pertama kali mencetuskan gagasan agar minuman Coca-Cola tersebut dapat
dinikmati tidak hanya oleh orang Amerika saja, tetapi juga untuk dikonsumsi
oleh seluruh bangsa di dunia. Untuk merealisasikan gagasan tersebut, maka pada
tahun 1929 didirikan The Coca-Cola Export Cooperation, yaitu perusahaan yang
menangani proses penjualan minuman keseluruh pelosok negeri di dunia
dengan cirri mutu, rasa, dan kesegaran yang sama.
Di Indonesia, Coca-Cola mulai dikenal pada tahun 1927 melalui De Nederland
Indische Mineral Water Fabrieck yang membotolkan nya untuk pertama kali di
Batavia. Selanjutnya perusahaan tersebut diambil alih oleh pedagang Indonesia
dan berubah nama menjadi The Indonesian Bottles Ltd. N. V. (IBL) yang berstatus
perusahaan nasional.
Pada tahun 1971, dengan pertambahan usahadan modal, IBL berubah menjadi
nama baru PT Djaya Bevarages Bottling Company (PT. DBBC) yang merupakan pabrik
pembotolan modern pertama di Indonesia. Adanya penambahan modal tersebut
meningkatkan kapasitas pabrik yang diikuti pula dengan penambahan macam produk
yang dihasilkan dalam berbagai ukuran kemasan.
Pada tahun 1993 seluruh saham PT. DBBC diambil alih oleh Coca-Cola Amatil
Ltd, suatu grup perusahaan pembotolan Coca-Cola dikawasan Asia Pasifik dan
EropaTimur yang bermarkas di Sydney, Australia. Adanya perpindahan saham
tersebut mengakibatkan nama PT. DBBC berubah menjadi PT. Coca-Cola Amatil
Indonesia (PT. CCAI). Tahun 2000, seluruh pabrik pembotolan minuman merek
dagang Coca-Cola yang ada di Indonesia resmi bergabung menjadi satu dibawah PT.
CCAI.
PT. Coca-Cola Amatil Indonesia dibagi menjadi dua, yaitu PT. Coca-Cola
Amatil Indonesia Bottling (PT. CCAIB) dan PT. Coca-Cola Amatil Indonesia
Distribution (PT. CCAID).PT. CCAIB bertugas untuk memproduksi minuman ringan (Soft
Drink), sedangkan PT. CCAID yang bertugas untuk memasarkan dan mempromosikan
minuman ringan (Soft Drink) yang dihasilkan PT. CCAIB. Untuk meningkatkan
volume penjualan keseluruh wilayah Indonesia, maka PT. CCAI mengoperasikan
pabrik pembotolan di 10 kota besar Indonesia, yaitu Medan, Padang, Lampung,
Jakarta, Bandung, Semarang, Pandaan, Bali, Makassar, dan BanjarBaru.
Pada tahun 2002, PT. CCAIB berubah nama menjadi PT. Coca-Cola Bottling
Indonesia (PT. CCBI) dan PT. CCAID menjadi PT. Coca-Cola Distribution Indonesia
(PT. CCDI). Seluruh pabrik pembotolan Coca-Cola di Indonesia berada dibawah
manajemen PT. Coca-Cola Indonesia (PT. CCI). PT. Coca-Cola Indonesia ini
merupakan perwakilan dari The Coca-Cola Company yang menyuplai bahan baku
konsentrat keseluruh pabrik pembotolan Coca-Cola di Indonesia dan menetapkan
seluruh standar bahan baku yang digunakan oleh pabrik.
PT. Coca-Cola Bottling Indonesia (CCBI) merupakan suatu badan yang
berbentuk perseroan terbatas yang bergerak di bidang usaha produksi minuman ringan.
Perusahaan Coca-cola di Jawa Tengah dirintis oleh dua orang pengusaha yaitu
Bapak Portogtius Hutabarat (alm) dan Bapak Mugijanto. Seiring dengan
perkembangan perusahaan maka pada bulan April 1992 PT. PAN Java Bottling Co
bergabung dengan Coca-cola Amatil Limited Australia. Kemudian mulai tanggal 1
Juli 2002 kembali merubah namanya hingga sekarang yaitu PT. Coca-cola Bottling
Indonesia (CCBI) Central Java Operations.
PT. Coca-cola memiliki sebelas pabrik pembotolan yang ada di Indonesia yang terdapat di Semarang, Bandar Lampung, Padang, Ujung Pandang, Medan, Surabaya, Bandung, Bali, Jakarta, Banjarmasin dan Manado. Salah satu pabrik pembotolannya adalah PT. Coca-coala Bottling Indonesia (CCBI) di Semarang. CCBI hanya memproduksi minuman dalam kemasan botol. Coca-cola merupakan minuman yang terbuat dari bahan baku pilihan berupa air, gula, concentrate dan karbondioksida. Selain coca-cola juga terdapat produk minuman lainnya seperti Diet Coke, Sprite, Fanta, Frestea, Sunfill, Ades, Aquarius, Kres, A & W, Sar saparila dan Schwepees. Proses produksi coca-cola tentu saja menghasilkan limbah industri, limbag yang berbentuk gas berupa asap, cair berupa air yang dapat dimanfaatkan untuk mengairi sawah dan limbah padat berupa botol. Limbah tersebut telah mengalami proses pengolahan dengan yang aman dan tidak membahayakan makhluk hidup dan lingkungan sekitar. Hal tersebut merupakan bagian tanggung jawab dari PT. CCBI terhadap lingkungan dan wujud kepedulian sosial perusahaan kepada masyarakat. Saat ini CCBI Semarang telah memperkerjakan 1200 tenaga kerja yang telah memiliki KKB dengan Sp RTMM dan koperasi kendali harta segabai penunjang hubungan industrial Pancasila yang harmonis. Pengembangan tenaga muda Indonesia merupakan prioritas utama. Oleh sebab itu dalam perekrutan tenaga kerja, CCBI melakukan beberapa seleksi masuk diantaranya seleksi tes tertulis, psikotes dan wawancara tiga bulan. Hal tersebut bertujuan untuk mendapatkan tenaga kerja yang berkualitas dan berkompeten. CCBI juga mengadakan berbagai macam training motivasi bagi para karyawan yang bertujuan untuk meningkatkan semangat kerja, bentuk training tersebut berupa pengadaan kegiatan refresing, outbond, pelatihan skill untuk karyawan baru. Dengan adanya kebijakan tersebut diharapkan dapat meningkatkan kembali motivasi serta kinerja karyawan yang mangalami penurunan sehingga kualitas, kuantitas serta kontinuitas produk tetap terjaga. CCBI juga memberikan berbagai penghargaan bagi karyawan yang telah bekerja dengan baik serta memberikan kompensasi yang memadai berdasarkan tingkat jabatan yang telah dicapai di perusahaan. Tidak terlepas dari itu semua CCBI juga mempunyai serikat kerja yang dibentuk untuk menampung suatu gagasan, pendapat atau saran yang dapat memajukan perusahaan. Serikat keja memiliki peranan cukup besar di perusahaan karena perusahaan dapat mengetahui apa yang diinginkan oleh para pekerja dan sebaliknya. Salah satu fungsi serikat kerja yaitu berusaha mengkomodil dari kebutuhan pekerja dimana usulan tersebut akan diangkat dalam Meeting Be Partied Award yang diadakan setiap tiga bulan sekali dan pada Three Partied Award setiap enam bulan sekali.
PT. Coca-cola memiliki sebelas pabrik pembotolan yang ada di Indonesia yang terdapat di Semarang, Bandar Lampung, Padang, Ujung Pandang, Medan, Surabaya, Bandung, Bali, Jakarta, Banjarmasin dan Manado. Salah satu pabrik pembotolannya adalah PT. Coca-coala Bottling Indonesia (CCBI) di Semarang. CCBI hanya memproduksi minuman dalam kemasan botol. Coca-cola merupakan minuman yang terbuat dari bahan baku pilihan berupa air, gula, concentrate dan karbondioksida. Selain coca-cola juga terdapat produk minuman lainnya seperti Diet Coke, Sprite, Fanta, Frestea, Sunfill, Ades, Aquarius, Kres, A & W, Sar saparila dan Schwepees. Proses produksi coca-cola tentu saja menghasilkan limbah industri, limbag yang berbentuk gas berupa asap, cair berupa air yang dapat dimanfaatkan untuk mengairi sawah dan limbah padat berupa botol. Limbah tersebut telah mengalami proses pengolahan dengan yang aman dan tidak membahayakan makhluk hidup dan lingkungan sekitar. Hal tersebut merupakan bagian tanggung jawab dari PT. CCBI terhadap lingkungan dan wujud kepedulian sosial perusahaan kepada masyarakat. Saat ini CCBI Semarang telah memperkerjakan 1200 tenaga kerja yang telah memiliki KKB dengan Sp RTMM dan koperasi kendali harta segabai penunjang hubungan industrial Pancasila yang harmonis. Pengembangan tenaga muda Indonesia merupakan prioritas utama. Oleh sebab itu dalam perekrutan tenaga kerja, CCBI melakukan beberapa seleksi masuk diantaranya seleksi tes tertulis, psikotes dan wawancara tiga bulan. Hal tersebut bertujuan untuk mendapatkan tenaga kerja yang berkualitas dan berkompeten. CCBI juga mengadakan berbagai macam training motivasi bagi para karyawan yang bertujuan untuk meningkatkan semangat kerja, bentuk training tersebut berupa pengadaan kegiatan refresing, outbond, pelatihan skill untuk karyawan baru. Dengan adanya kebijakan tersebut diharapkan dapat meningkatkan kembali motivasi serta kinerja karyawan yang mangalami penurunan sehingga kualitas, kuantitas serta kontinuitas produk tetap terjaga. CCBI juga memberikan berbagai penghargaan bagi karyawan yang telah bekerja dengan baik serta memberikan kompensasi yang memadai berdasarkan tingkat jabatan yang telah dicapai di perusahaan. Tidak terlepas dari itu semua CCBI juga mempunyai serikat kerja yang dibentuk untuk menampung suatu gagasan, pendapat atau saran yang dapat memajukan perusahaan. Serikat keja memiliki peranan cukup besar di perusahaan karena perusahaan dapat mengetahui apa yang diinginkan oleh para pekerja dan sebaliknya. Salah satu fungsi serikat kerja yaitu berusaha mengkomodil dari kebutuhan pekerja dimana usulan tersebut akan diangkat dalam Meeting Be Partied Award yang diadakan setiap tiga bulan sekali dan pada Three Partied Award setiap enam bulan sekali.
B.
Profil
perusahaan PT. Coca-Cola Amatil Indonesia
PT.
Coca-Cola Bottling Indonesia merupakan salah satu produsen minuman
ringan terkemuka di Indonesia. Kami memproduksi produk-produk berlisensi dari The
Coca-Cola Company.
Coca-Cola
Bottling Indonesia merupakan nama dagang yang terdiri dari
perusahaan-perusahaan patungan (joint venture) antara
perusahaan-perusahaan lokal yang dimiliki oleh pengusaha-pengusaha independen
dan Coca-Cola Amatil Limited, yang merupakan salah satu produsen dan
distributor Coca-Cola di dunia. Coca-Cola Amatil pertama kali
berinvestasi di Indonesia pada tahun 1992. Mitra usaha Coca-Cola Amatil saat
ini merupakan pengusaha
Indonesia
yang juga adalah mitra usaha yang memulai kegiatan usahanya di
Indonesia.Produksi pertama Coca-Cola Di Indonesia dimulai pada tahun 1932 di
satu pabrik yang berlokasi di Jakarta. Produksi tahunan pada saat itu hanya
sekitar 10.000 krat. Saat itu perusahaan baru memperkerjakan 25 karyawan dan
mengoperasikan tiga buah kendaraan truk distribusi. Sejak saat itu hingga tahun
1980-an, berdirilah 11 perusahaan independen di seluruh Indonesia guna
memproduksi dan mendistribusikan produk-produk The Coca-Cola Company.
Pada awal tahun 1990-an, beberapa diantara perusahaan-perusahaan tersebut
mulai bergabung menjadi satu, dan tepat pada tanggal 1 Januari 2000, sepuluh
dari perusahaan-perusahaan tersebut bergabung dalam perusahaan yang kini
dikenal sebagai Coca-Cola Bottling Indonesia Saat ini, dengan jumlah
karyawan lebih dari 9.000 orang, jutaan krat produk kami didistribusikan dan
dijual melalui lebih dari 420.000 gerai eceran yang tersebar diseluruh
Indonesia.

Logo
PT.Coca-Cola Bottling Indonesia
Sumber:
Company Profile PT. Coca-Cola Bottling Indonesia – Jawa Barat
C.
Struktur
Organisasi
PT.
Coca-cola Bottling Indonesia - Jawa Barat adalah perusahaan yang
bergerak di bidang pembotolan dan pendistribusian minuman ringan bermerek Coca-Cola,
Sprite, Fanta, Frestea, Ades dan lainnya. Untuk menjaga agar mutu
minuman yang dihasilkan sesuai dengan standar, perusahaan PT. Coca-Cola
Company menerapkan dengan ketat proses produksi yang diakui secara
internasional.
Sementara
itu untuk pendistribusian produk-produk tersebut dilakukan secara khusus oleh
PT. Coca-Cola Amatil Indonesia - Jawa Barat. Di dalam menjalankan perusahaan
ini tentulah didukung oleh seluruh karyawan yang menciptakan suatu tata kerja
yang paling baik, teratur, dan rapi sebagai alat pencapaian tujuan yang telah
ditetapkan dan digariskan oleh perusahaan sebelumnya.
Salah
satu cara untuk menciptakan suatu tata kerja yang baik, teratur, dan rapi
adalah dengan menyusun struktur organisasi perusahaan sebagai hirarki dalam
pemisahan tugas, tanggung jawab, dan wewenang yang jelas dan tegas pada setiap
bagian yang ada dalam perusahaan.

Sumber
: Company Profile PT.Coca – Cola Amatil Indonesia – Jawa Barat
Pimpinan
tertinggi dari PT. Coca-cola Botling Indonesia Unit Jawa Barat di pegang oleh
General Manager. General Mnager ini membawahi dua perusahaan , yaitu PT.
Coca-cola Bottling Indonesia Unit Jawa Barat sebagai perusahaan pembotolan dan
PT.Coca-cola Distributor Indonesia Unit Jawa Barat sebagai pemasaran produknya
untuk wilayah jawa barat dan sekitarnya. General Manager bertugas sebagai
perencana fungsi organisasi serta wakil perusahaan untuk berhubungan dengan
dunia luar perusahaan, masyarakat, dan pemerintah.
Di
kedua perusahaan tersebut, General Manager membawahi langsung enam manager yang
memimpin masing-masing departemen ,yaitu Finance Manager, Human
Resources Manager yang membawahi Public Relations Manager, Genera sales, Business
Service manager, Technical Operation. Setiap Manager departemen
membawahi seorang atau beberapa supervisor atau officer.
D.
Prosese
Produksi
Unit produksi Coca-Cola terdiri dari
delapan proses, yaitu:
a.
Gudang
Gudang
merupakan tempat penyimpanan bahan baku yang terdiri dari gula standar
industri, air yang dimurnikan, soda pengkarbonasi, dan formula konsentrat
(concentrate).
b.
Pencampuran
Pencampuran
merupakan proses penggabungan antara air murni dengan gula dan formula
konsentrat (concentrate) untuk menghasilkan sirup. Kemudian, proses selanjutnya
adalah penambahan soda pengkarbonasi (karbondioksida murni) ke dalam campuran
sirup untuk mendapatkan kesegaran rasa.
c.
Pencucian
Pencucian
merupakan proses pencucian, pensterilan, dan pembilasan botol bekas pakai
sebelum diisi kembali untuk memastikan konsistensi kualitas produk.
d.
Pengisian dan Penutupan
Setelah
melalui proses pencucian, mesin pengisian memasukkan campuran sirup yang sudah
siap dalam jumlah akurat, lalu lamngsung diikuti dengan menutup kemasan
tersebut untuk menjamin dan memastikan kebersihannya.
e.
Pengkodean
Masing-masing
botol ditandai dengan kode khusus yang menjelaskan hari, bulan, shift, dan
pabrik pembuatan.
f.
Pemeriksaan
Proses
pengontrolan dilakukan secara cermat mulai botol dibawa ke pabrik, dicuci,
hingga pada tahap pengisian. Pengontrolan secara manual dan mekanis adalah
untuk memastikan keunggulan kualitas produk.
g.
Pengemasan
Setelah
pengontrolan terakhir, botol yang telah diisi siap untuk dikemas dan
dikirimkan.
h.
Pengangkutan
Pengangkutan
merupakan proses pengiriman produk yang telah dikemas kepada channel
perusahaan.
E.
Teknologi
Informasi
Sistem informasi manajemen (manajement information system
atau sering dikenal dengan singkatannya MIS)merupakan penerapan sistem informasi di dalam organisasi untuk mendukung
informasi-informasi yangdibutuhkan oleh semua tingkatan manajemen. SIM (sistem
informasi manajemen) dapat didefenisikansebagai kumpulan dari interaksi
sistem-sistem informasi yang bertanggung jawab mengumpulkan danmengolah data
untuk menyediakan informasi yang berguna untuk semua tingkatan manajemen di
dalamkegiatan perencanaan dan pengendalian.Secara teori, komputer tidak
harus digunakan didalam SIM, tetapi kenyataannya tidaklah mungkin SIM
yangkomplek dapat berfungsi tanpa melibatkan elemen komputer. Lebih lanjut,
bahwa SIM selalu berhubungandengan pengolahan informasi yang didasarkan pada
komputer (computer-based information processing). SIM merupakan kumpulan dari sistem-sistem informasi. SIM tergantung dari
besar kecilnya organisasi dapat terdiri dari sistem-sistem informasi sebagai
berikut :
1.
Sistem informasi akuntansi (accounting
information system), menyediakan informasi daritransaksi keuangan.
2.
Sistem informasi pemasaran (marketing
information system), menyediakan informasiuntuk penjualan, promosi penjualan,
kegiatan-kegiatan pemasaran, kegiatan-kegiatan penelitian pasar dan lain
sebagainya yang berhubungan dengan pemasaran.
3.
Sistem informasi manajemen persediaan (inventory
management information system).
4.
Sistem informasi personalia (personnel
information systems)
5.
Sistem informasi distribusi (distribution
information systems)
6.
Sistem informasi pembelian (purchasing
information systems)
7.
Sistem informasi kekayaan (treasury
information systems)
8.
Sistem informasi analisis kredit (credit
analiysis information systems)
9.
Sistem informasi penelitian dan
pengembangan (research and development information
systems)
10. Sistem informasi teknik (engineering information systems)
F.
Sumber Daya Manusia

Pengembangan SDM selalu menjadi fokus dari manajemen Coca-Cola Amatil
Indonesia untuk mempersiapkan karyawan yang kompeten, dinamis, dan berdedikasi
tinggi, sesuai dengan tujuan kami memberikan pelayanan terbaik dan
memuaskan bagi pelanggan.
Dengan sejarahnya yang panjang di Indonesia, kami konsisten merekrut
orang-orang muda berpotensi untuk mengisi peran penting di perusahaan dan juga
tetap membuka peluang bagi para tenaga profesional yang berpengalaman Filosofi
program pengembangan kami menekankan "Hands on Experience" yang
dikombinasikan dengan coaching dan mentoring secara terus menerus serta program
pelatihan di dalam kelas.
Kami percaya
bahwa pengelolaan yang baik atas kompetensi akan mendukung performa bisnis
secara keseluruhan. Untuk itu, kompetensi menjadi jangkar dari proses
pengembangan setiap karyawan kami, untuk memastikan mereka memiliki
pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang tepat sesuai dengan yang diperlukan,
tidak hanya untuk mengerjakan pekerjaannya saat ini, namun untuk
menghadapi kesempatan karir berikutnya.
G.
Prospek
Kerja Lulusan Sarjana Teknik Industri di PT. Coca-Cola Amatil Indonesia
- Supervisor produksi
Kebanyakan industri manufaktur mensyaratkan posisi ini
diisi oleh pria karena jam
kerjanya yang biasanya berdasarkan shift. Walaupun sistem shift seringkali
tidak berlaku untuk level supervisor, namun tanggung jawab jabatan kerap
menuntutnya untuk paling tidak sekedar hadir di tiap shift. Belum lagi apabila
terjadi masalah di luar kendali.
- Quality system management (Quality Assurance)
Tanggung jawab bagian ini bukanlah mengecek kualitas
produk maupun material, melainkan menjaga berjalannya sistem yang telah
dibakukan berdasarkan standar internasional sistem
kualitas. Industri manufaktur yang telah menerapkan sistem kualitas mutu
internasional seperti ISO harus secara berkala meninjau apakah proses yang
berjalan sudah sesuai dengan panduan yang dibuat dan apakah panduan
tersebut selalu diperbarui jika ada perubahan.
- Inventory management
Karena keterbatasan area yang dimiliki
perusahaan untuk penyimpanan barang jadi, setengah jadi, maupun material,
diperlukan adanya manajemen penyimpanan. Ini juga salah satu ilmu dasar pada
jurusan Teknik Industri. Ada banyak faktor yang harus dipertimbangkan dalam
manajemen penyimpanan, seperti harga barang, dimensi kemasan barang, luas area
yang tersedia, lama pemesanan ke supplier, seberapa sering barang jadi
dibeli konsumen, dan
berapa lama masa garansi atau kadaluarsa barang.
H.
Limbah Proses Produksi & penanganannya
. Penanganan
Limbah
PT. Coca-Cola Amatil Indonesia memiliki komitmen untuk senantiasa memahami, mencegah, dan
memperkecil setiap dampak buruk terhadap lingkungan sehubungan dengan kegiatan
produksi minuman ringan. Oleh karena itu PT. CCAI membuat
suatu Instalasi Pengolahan Limbah (IPAL) di lokasi pabrik.
Terdapat dua jenis limbah PT. Coca-Cola Amatil Indonesia – Unit Jawa Barat yaitu limbah padat dan limbah cair.
H.1. Penanganan
Limbah Padat
Limbah padat yang dihasilkan PT. Coca-Cola Amatil Indonesia – Unit Jawa Barat meliputi kemasan botol yang rusak atau pecah,
sedotan, crawn cap, closure, preform, kemasan bahan baku
dan bahan penunjang, barang-barang bekas dari kegiatan lainnya seperti bekas
mesin produksi, pompa, ban bekas dan sampah padat lainnya akan dikumpulkan dan
dibuang oleh pihak ketiga yang ditunjuk oleh Pemerintah Daerah setempat untuk
didaur ulang.
Sedangkan sampah domestik yang ditampung di tempat penampungan sementara
akan diambil oleh pihak ketiga untuk disalurkan ke tempat penampungan sampah
terakhir.
H.2. Penanganan
Limbah Cair
Limbah cair (kecuali air hujan) yang
berasal dari bottling line, syrup room (tanki sanitasi), dan water
treatment dan waste water treatment (back wash dan
regenerasi) ditampung di dalam bar screen yang fungsinya untuk
memisahkan kotoran-kotoran seperti sampah, plastik, sedotan dan lain
sebagainya. Selanjutnya setelah disaring melalui bar screen, limbah
tersebut di tampung dalam pump fit yang kemudian di tampung lebih lanjut
dalam bak ekualisasi lama.
Kemudian limbah cair tadi dialirkan menuju fat trap yang berjumlah 2
buah bak dengan kapasitas 50 m3 dan bersekat 5 buah untuk memisahkan
lemak dan minyak. Lemak dan minyak yang memiliki berat jenis lebih rendah dari
air akan tertahan di permukaan, sedangkan air limbahnya akan berada di bagian
bawah yang selanjutnya di pompa menuju ke bak equalisasi basin.
Bak equalisasi basin yang memiliki volume 500 m3 berfungsi untuk
menghomogenisasikan dan menetralisir air limbah sebelum pengolahan lebih lanjut.
Proses penetralisir air limbah ini menggunakan soda kasutik dengan konsentrasi
98 % sehingga pH air menjadi 6,5 – 8. Bak equaliasasi ini dilengkapi dengan aerator
summersibel yang fungsinya untuk peraerasi air limbah agar air limbah
tersebut tidak mempunyai fluktuasi kualitas yang besar sehingga memudahkan
pengolahan selanjutnya, air limbah di homogenkan dan diaerasikan menggunakan
aliran turbulen. Kemudian air limbah tersebut dialirkan menuju bak oxidation
ditch.
Bak oxidation ditch yang memiliki volume 1600 m3 berfungsi untuk
menguraikan zat-zat organik yang berada dalam air limbah dengan menggunakan
Lumpur aktif dan bakteri aerobik (berespirasi menggunakan oksigen). Bakteri
tersebut yaitu jenis Escherichia coli, Staphillococcus, pseudomonas sp dan Acetobacter.
Untuk mempercepat pertumbuhan bakteri ditambahkan Urea pada bak equalisasi. Bak
equalisasi dilengkapi dengan dua buah aerator yang berfungsi agar
bakteri dapat kontak dengan air limbah secara optimal, agar semua Lumpur dapat
tercampur dengan air limbah secara merata dan membantu tersuplainya oksigen
untuk pertumbuhan bakteri.
Air limbah selanjutnya di alirkan menuju bak clarifier yang memiliki
volume 300 m3. Bak clarifier ini berfungsi untuk memisahkan
lumpur aktif yang ikut terbawa dari oxidation. Lumpur aktif ini akan
diendapkan dan dikumpul dibawah centre well oleh scrapper yang
terdapat di bak clarifier, sedangkan air akan mengalir secara over
flow menuju ke saluran selanjutnya.
Lumpur yang telah berkumpul dimasukkan ke dalam sludge collector oleh
alat return sludge dan disirkulasikan kembali menuju ke bak oxidation
ditch. Tetapi jika lumpur tersebut sudah tidak bisa di uraikan kembali maka
akan dialirkan menuju drying bed.
Lumpur yang berada di drying bed akan dikeringkan dan tertahan di
bagian permukaan dengan bantuan sinar matahari yang selanjutnya akan dibuang.
Sedangkan air yang masih terkandung dalam lumpur akan disirkulasikan kembali ke
bak equalization setelah pemeriksaan di control bed.
Air yang mengalir secara over flow dari bak clarifier ada
yang dialirkan menuju sand filter untuk dijernihkan dari kotoran dan
lumpur, kemudian dialirkan menuju zeolit filter atau sand filter,
kemudian air ditampung di recycled tank yang berkapasitas 1500 L, air di
recycled kemudian dialirkan menuju tanki carbon filter yang
berkapasitas 1000 L untuk menyaring kotoran-kotoran pada air, air setelah
melewati carbon filter tank selanjutnya ditampung di pressure tank,
kemudian air dari pressure tank dilakukan pelunakan di softener tank,
air yang telah dilakukan pelunakkan selanjutnya dialirkan melalui pipa yang
terbagi menjadi dua pipa, pipa pertama dialirkan menjadi general use
sebagai kebutuhan air di toilet, taman, mesjid, dan air pembersih mobil dan forklift.
Adapula yang langsung dialirkan menuju sungai setelah melewati indikator
fish pond (kolam ikan), sedangkan pipa yang kedua dialirkan untuk proses
resin penukar ion yang selanjutnya dialirkan menuju boiler.
Parameter dan pemantauan limbah dilakukan setiap hari oleh operator
limbah yang dapat dilihat pada tabel.
DO (Dissolve Oxygen) adalah jumlah oksigen yang terlarut dalam air
limbah yang dinyatakan dalam satuan ppm (minimal 2-4 ppm). BOD (Biology
Oxygen Demand) adalah jumlah oksigen yang dibutuhkan untuk menguraikan
senyawa-senyawa organik serta biologi oleh bakteri dalam satuan ppm (tidak
boleh lebih dari 50 ppm), COD (Chemical Oxygen Demand) adalah jumlah
oksigen yang dibutuhkan untuk menguraikan senyawa organik secara kimia
dinyatakan dalam satuan ppm (< 15 ppm). MLSS (Mixed Liquor Suspended
Solid) adalah jumlah padatan yang tersuspensi pada air limbah (oxidation).
SSRS (Suspended Solid Return Sludge) adalah jumlah padatan yang
tersuspensi yang dikembalikan ke bak oxidation. TSS (Total Suspended Solid)
adalah semua padatan yang mengambang pada permukaan air limbah yang sebagian
besar dapat dipisahkan dari air limbah melalui penyaringan. TDS (Total
Dissolve Solid) adalah semua padatan yang terlarut dan ukurannya lebih
kecil dari 0,45 mikron (ion-ion bervalensi 3).
Tabel 2. Parameter dan Pemantauan Limbah Cair PT
CCAI – West Java
Parameter
|
Frekuensi
|
Tempat Sampling
|
Standar
|
DO (Dissolve Oxygen)
|
1 kali setiap shift
|
Di titik mati
|
2-mg/Liter
|
pH
|
1 kali setiap shift
|
Di titik mati
|
7 – 9
|
Temperatur
|
1 kali setiap shift
|
Di titik mati
|
< 35 °C
|
SV (Sludge Volume)
|
2 kali setiap shift
|
Di titik mati
|
20 – 30 %
|
MLSS (Mixed Liquor Suspended Solid)
|
Setiap pagi dan setelah sludge dibuang
|
Di aerator yang sedang berjalan
|
2000 – 2500 mg/Liter
|
SSRS (Suspended Solid Return Sludge)
|
Setiap pagi
|
||
BOD (Biology Oxidation Demand)
|
1 kali setiap shift
|
Before equalisasi & after clarifier
|
Tidak boleh lebih dari 50 ppm
|
COD (Chemical Oxidation Demand)
|
1 kali setiap shift
|
Before equalisasi & after clarifier
|
< 15 ppm
|
Penambahan Nutrisi
|
Setiap pagi
|
BOD : N : P
100 : 5 : 1
|
Untuk pengujian kadar COD dan BOD dilakukan di laboratorium oleh petugas QA
satu kali setiap minggu.
Prosedur pengujian kadar BOD adalah sebagai berikut,
- Sampel di masukkan ke dalam botol sampel dan diaduk dengan batang pengaduk magnet
- Tambahkan ½ NaOH dan botol tersebut ditutup.
- Kemudian botol sampel tersebut dimasukkan ke dalam thermochamber dan diaduk selama 60 menit sampai temperatur stabil.
- Kencangkan tutup botol tersebut dan dimasukkan ke dalam stro breaker
- Set skala di angka nol
- Kemudian dicatat jam, tanggal, dan angka yang dihasilkan.
Simpan botol tersebut dan tunggu sampai dengan 5 hari, setelah itu baru
didapatkan hasilnya.
Prosedur pengujian kadar COD adalah sebagai berikut,
- Sampel dipipet ke dalam tabung reaksi sambil ditambahkan transferpett sebanyak 2 ml dan pereaksi standar kemudian tutup dan diaduk
- Tabung reaksi tadi dimasukkan ke dalam thermoreaktor Cr 3000 yang telah diset 148 °C selama 120 menit.
- Setelah 120 menit tabung reaksi tadi diangkat dan dibiarkan selama 10 menit
- Photometer MPM 2010 dinyalakan dan diset Filter collectornya diangka satu (jika COD 160) atau diangka dua (jika COD 1500)
- Kemudian pilih menu “factor” dan isi data masing-masing faktor dengan nilai faktor.
- Tabung reaksi disimpan di sampel cell photometer dan dibaca nilai COD (mg/Liter).
april_gie folbak akw rizky_awaly
BalasHapus